Posts Tagged ‘saksi’

BAP Saksi Yang Dibacakan Di Persidangan


Kaidah hukum:
Karena terdakwa telah mengakui dan membenarkan keterangan saksi Fransiska Meo Iku yang dibacakan dari Berita Acara penyidikan walaupun tanpa didahului penyumpahan saksi ketika disidik, bahwa ia telah mencuri barang bukti cincin emas dan menggadaikan kepadanya, maka keterangan tersebut mempunyai nilai pembuktian yang sah.
Sehingga terdakwa telah terbukti dengan sah dan meyakinkan yaitu mengambil barang milik orang lain secara melawan hukum dan untuk memilikinya barang yang diambilnya.

Yurisprudensi Mahkamah Agung
No. 1677 K/Pid/1993
Terbit : 1996
Hal. 424

Iklan

Intervensi


Kaidah hukum:

  1. Judex facti mempunyai pengertian yang salah mengenai istilah intervenient (intervensi) dan pembantah, Intervenient (i.c. tussenkomst) adalah pihak ke III yang tadinya berdiri di luar acara sengketa ini kemudian diizinkan masuk ke dalam acara yang sedang berjalan untuk membela kepentingan sendiri. Sedangkan pembantah (dalam perkara ini) adalah pihak ke III yang membela kepentingannya sendiri tetapi tetap berada di luar acara yang sedang berjalan dan perkaranya tidak disatukan dengan perkara pokok antara penggugat dan tergugat. Oleh karena itu intervenient tidak dapat merangkap menjadi pembantah dalam satu perkara yang sama.
  2. Dalam berita acara sidang pemeriksaan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan/Barat, diperiksa 2 (dua) orang saksi secara bersama-sama dan sekaligus. Hal ini adalah bertentangan dengan pasal 144 (I) R.I.D. (salah menerapkan hukum) sehingga kedua keterangan saksi tersebut tak dapat dipergunakan. Ratio dari pasal 144 (I) R.I.D. ialah agar kedua saksi tak dapat menyesuaikan diri dengan keterangan masing-masing, sehingga diperoleh keterangan saksi yang obyektif dan bukan keterangan saksi yang sudah bersepakat menyatakan hal-hal yang sama mengenai sesuatu hal.
  3. Ketentuan dalam pasal 1813 K.U.H.Perdata tidak bersifat limitatif juga tidak mengikat, yaitu kalau sifat dari perjanjian memang menghendakinya maka dapat ditentukan bahwa pemberian kuasa tak dapat dicabut kembali. Hal ini dimungkinkan karena pada umumnya pasal-pasal dari hukum perjanjian bersifat hukum yang mengatur. Mengenai pemberian kuasa yang tak dapat dicabut dan juga tidak batal karena meninggalnya pemberi kuasa, di Indonesia telah merupakan suatu bestendig en gebruikelijk beding sehingga tidak bertentangan dengan UU yaitu pasal 1339 dan pasal 1347 dst. K.U.H.Perdata.

Yurisprudensi Mahkamah Agung

No. 731 K/Sip/1975

Terbit : 1977-1

Hal. 122-144

Baca lebih lanjut

Satu Saksi Bukan Merupakan Saksi


Kaidah hukum:

Judex  facti telah salah menerapkan hukum, karena mendasarkan putusannya atas keterangan saksi-I saja, sedangkan para tertuduh mungkir dan keterangan saksi lainnya tidak memberi petunjuk terhadap kejahatan yang dituduhkan.

Yurisprudensi Mahkamah Agung

No. 28 K/Kr/1977

Terbit : 1978-2

Hal. 47-59

Keterangan Terdakwa


Kaidah hukum:
Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri telah salah menerapkan UU yaitu hanya menyandarkan pembuktian tentang tuduhan yang ditujukan kepada terdakwa atas keterangan terdakwa tersebut, tanpa dikuatkan oleh kesaksian dengan persyaratan-persyaratan seperti yang dimaksudkan dalam pasal 300 R.I.B. dan pasal-pasal berikutnya.

Yurisprudensi Mahkamah Agung
No. 37 K/Kr/1973
Terbit : 1974
Hal. 153-160

Kaidah hukum:

Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri telah salah menerapkan pasal 308 jo pasal 300 dan berikutnya dari R.I.B. karena pembuktian mengenai tuduhan terhadap terdakwa hanya disandarkan pada keterangan terdakwa tanpa dikuatkan oleh kesaksian degan persyaratan-persyaratan yang dimaksudkan dalam pasal-pasal tersebut, maka putusan Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri harus dibatalkan.

Yurisprudensi Mahkamah AgungNo. 37 K/Kr/1973

Terbit : 1976Hal. 55-58

Mendengarkan keterangan saksi & alasan untuk memasukkan seseorang ke penjara


Kaidah hukum:
– Mendengar keterangan seorang saksi adalah termasuk kebijaksanaan Hakim.
– Alasan-alasan untuk memasukkan seseorang ke dalam penjara tidak merupakan syarat mutlak.

Yurisprudensi Mahkamah Agung
No. 100 K/Kr/1963
Terbit : 1969
Hal. 192-195