Archive for the ‘Perdata’ Category

UNIVERSALITAS DAN PARTIKULARITAS HAK ASASI MANUSIA DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN


Abdullah Tri Wahyudi

Abstract

Human rights are a fundamental right or fundamental rights of existing and human beings, often called the human rights (human rights). So human rights are basic rights or the rights of human subjects brought from birth as a gift / gift of God Almighty. This right is fundamental in nature and is a natural right that can not be separated from and in human life.

Marriage is a basic human right that is rights to form families in marriage and with their particularities in the Marriage Act which regulates marriage, will result in their universality and particularity of human rights in the regulation of marriage in Indonesia.

Universality and particularity of human rights in Law No. 1 Year 1974 on Marriage. So this study can answer the question about how the universality of human rights in Law No. 1 Year 1974 on Marriage and how the particularity of human rights in Law No. 1 Year 1974 on Marriage.

http://ejournal.iain-surakarta.ac.id/index.php/al-ahkam/article/view/82/0

PEMBERIAN KUASA


PEMBERIAN KUASA

Pengertian Pemberian Kuasa
Pemberian kuasa menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau Buergerlijk Wetboek (BW) pasal 1792 menyatakan bahwa suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melaksanakan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa.

Bentuk Pemberian Kuasa
Kuasa dapat diberikan dan diterima dengan:
1. akta umum;
2. surat di bawah tangan;
3. sepucuk surat;
4. lisan.

Bentuk Penerimaan Kuasa
Penerimaan suatu kuasa dapat terjadi dengan
1. terang-terangan;
Dinyatakan secara jelas mengenai persetujuan untuk menerima kuasa dengan menandataganinya surat kuasa atau pernyataan penerimaan kuasa secara lisan.

2. diam-diam;
Dengan dilaksanakannya kuasa yang diberikan pemberi kuasa oleh penerima kuasa maka dapat disimpulkan penerima kuasa menerima kuasa yang diberikan.

Jenis Kuasa
1. kuasa khusus,
yaitu hanya mengenai satu kepentingan tertentu atau lebih, dalam kuasa khusus memuat kata-kata yang tegas. Misalnya kuasa untuk menjual rumah, membuat perdamaian, kuasa membebani hak tanggungan.

2. Kuasa umum,
yaitu meliputi segala kepentingan pemberi kuasa. Pemberian kuasa yang dirumuskan secara umum hanya meliputi tindakan-tindakan yang menyangkut pengurusan Misalnya kuasa untuk mengurus perusahaan.

Larangan bagi Penerima Kuasa
Penerima kuasa tidak boleh melakukan perbuatan yang mengatasnamakan pemberi kuasa di luar kuasa yang diberikan. kekuasaan yang diberikan untuk menyelesaikan suatu perkara secara damai, tidak mengandung hak untuk menggantungkan penyelesaian perkara pada keputusan wasit.

Kewajiban Penerima Kuasa
1. melaksanakan kuasanya;
2. bertanggung jawab atas segala biaya, kerugian dan bunga yang timbul karena tidak dilaksanakannya kuasa itu.
3. menyelesaikan urusan yang telah mulai dikerjakannya pada waktu pemberi kuasa meninggal dan dapat menimbulkan kerugian jika tidak segera diselesaikannya.
4. memberi laporan kepada kuasa tentang apa yang telah dilakukan
5. Penerima kuasa tidak hanya bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan sengaja melainkan juga atas kelalaian-kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya. Akan tetapi tanggung jawab atas kelalaian-kelalaian orang yang dengan cuma-cuma menerima kuasa, tidaklah seberat tanggung jawab yang diminta dari orang yang menerima kuasa dengan mendapatkan upah.
6. Penerima kuasa bertanggung jawab atas orang lain yang ditunjuknya sebagai penggantinya dalam melaksanakan kuasanya:
– bila tidak diberikan kuasa untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya
– bila kuasa itu diberikan tanpa menyebutkan orang tertentu sedangkan orang yang dipilihnya ternyata orang yang tidak cakap atau tidak mampu.

Hak Penerima Kuasa
1. Hak Subtitusi
Hak untuk melimpahkan kuasanya kepada orang lain atau disebut juga dengan kuasa pengganti. Dapat dilakukan dengan melimpahkan secara keseluruhan atau sebagian saja. Subtitusi dapat dilakukan dengan menunjuk langsung orang yang dimaksud dalam surat kuasa dan dapat pula tidak ditunjuk secara langsung. Terhadap subtitusi yang tidak ditunjuk secara langsung dalam kuasa maka pemberi kuasa bertanggung jawab atas penunjukkan penggantinya.

2. Hak Retensi
Hak untuk menahan suatu barang milik orang lain yang berada di dalam kekuasaannya sampai tuntutan mengenai barang itu dipenuhi.

Kewajiban-kewajiban Pemberi Kuasa
1. Memenuhi perikatan-perikatan yang telah disetujui.
2. Membayar upah kepada penerima kuasa apabila diperjanjikan.
3. Mengembalikan persekot dan biaya yang telah dikeluarkan oleh penerima kuasa untuk melaksanakan kuasanya
4. Memberikan ganti rugi kepada penerima kuasa atas kerugian-kerugian yang dideritanya sewaktu menjalankan kuasanya asal dalam hal itu penerima kuasa tidak bertindak kurang hati-hati.

Hak Pemberi Kuasa
1. Mendapatkan hasil yang diharapkan.
2. Menarik kembali kuasanya.

Berakhirnya Pemberian Kuasa
1. Penarikan kembali kuasa oleh pemberi kuasa.
2. Dikembalikan kuasanya oleh penerima kuasa.
3. Pemberitahuan penghentian kuasanya oleh penerima kuasa.
4. Meninggalnya atau pailitnyasalah satu pihak.

Kuasa di Pengadilan
Dasar hukumnya adalah pasal 123 HIR.
Kuasa di pengadilan harus dengan kuasa khusus yang dibuat secara tertulis atau lisan.
Tertulis, harus memuat identitas para pihak, mengenai perkara apa.
Lisan, harus dilakukan di muka hakim dalam persidangan.

Referensi:

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta, 1994.

Tresna, Komentar HIR,  Pradnya Paramita, Jakarta, 1993.

 

TATA CARA PEMBUATAN PERJANJIAN


TATA CARA PEMBUATAN PERJANJIAN

Syarat sahnya Perjanjian
Pasal 1320 BW
1. Kehendak yang bebas, kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian harus mempunyai kehendak/kemauan yang bebas untuk melakukan perjanjian yang kehendak tersebut harus dinyatakan dalam perjanjian. Kehendak yang bebas adalah kehendak/kemauan yang dinyatakan secara bebas tanpa ada paksaan (dwang), kekhilafan (dwaling), dan penipuan (bedrog).

2. Cakap untuk membuat perjanjian, kedua belah pihak harus cakap dalam melakukan perbuatan hukum, seseorang yang belum dewasa dan dibawah pengampuan (curatele) oleh undang-undang dinyatakan tidak cakap melakukan perbuatan hukum.

3. Mengenai suatu hal tertentu yang diperjanjikan, objek yang diperjanjikan harus suatu hal atau benda yang jelas atau tertentu. Mengenai barang yang diperjanjikan minimal harus ditentukan jenisnya.

4. Sebab yang halal, sebab yang halal di sini yang dimaksud adalah tujuan yang diperbolehkan atau tidak melanggar undang-undang. Suatu perjanjian harus mempunyai tujuan yang dikehendaki oleh kedua pihak dalam perjanjian. Perjanjian yang dibuat dengan tujuan palsu atau dibuat dengan tujuan pura-pura untuk menyembunyikan yang sebenarnya tidak diperbolehkan.

BAHASA KONTRAK
1. Bahasa yang terang sehingga tidak ambiguity.
2. Kalimat yang terang.
3. memakai bahasa yang baik dan benar.
4. sebanyak mungkin menggunakan terminologi yang sering dipakai dalam bahasa kontrak.
5. apabila bahasa terjemahan yang tidak dapat dielakkan, harus dicari padanannya yang tepat dalam bahasa Indonesia. Misalnya “whereas” diterjemahkan “bahwa”.

Karakteristik Bahasa Kontrak
1. Redudent atau berlebihan.
Contoh, “untuk dan atas nama dirinya sendiri….” Tujuannya adalah:
a. mempertegas makna;
b. memberikan sebanyak mungkin perlindungan.
2. Pilihan kata yang menggigit.
Contoh, “mutlak”, “semata-mata”.
3. Acuan yang jelas.
Setiap kata mengacu ke kata/kaliman lain, harus jelas kata tersebut mengacu ke kata/kalimat yang mana (me-refer ke mana).
4. Bahasa terjemahan, terutama digunakan untuk istilah yang tidak ada padannya dalam bahasa Indonesia.
5. Istilah-istilah khusus, misalnya, “…berlaku sebagai Bapak rumah yang baik”. (dalam Perjanjian Sewa Menyewa).
6. Permudah operasionalisasi, contoh, tentang ganti rugi diformulasikan ” ……denda keterlambatan sebesar Rp …………. per hari).
7. Mencari pedoman/patokan, misalnya dalam sewa beli kata “sepantasnya” dalam potongan harga.
8. Lebih khidmat, contoh, “….bertanggung jawab secara hukum”. “telah ditandatangani dengan meterai cukup”.

DETIL KONTRAK
Isi kontrak
o Tergantung apa yang akan disepakati para pihak (dibuat sedetil mungkin).
o Memformulasikan:
1. Titel kontrak, diikuti nomor kontrak.
2. Para pihak yang membuat kontrak.
3. Kesepakatan para pihak.
4. Objek kontrak.
5. Hak dan kewajiban para pihak.
6. Pola-pola penyelesaian sengketa.
7. Domisili.
8. Biaya hukum.
9. Tempat ditandatangani kontrak (locus contractus)

Ad.1 Titel Kontrak
Merupakan hubungan hukum yang mengikat para pihak yang membuat kontrak.

Contoh:

PERJANJIAN SEWA BELI KENDARAAN BERMOTOR
Nomor: 1234/SB-NM/VIII/2009

Nomor:
– Tidak ada pembakuan
– Nomor agenda perusahaan atau pihak yang membuat transaksi.
– Kode transaksi dan perusahaan.
– Bulan pada saat kontrak dibuat (romawi)
– Tahun pembuatan kontrak.

Ad. 2 Para Pihak
Sebelum para pihak, dibawah titel ditulis:

“Pada hari ini …………………. tanggal …………. (dengan huruf), bulan ………… (dengan huruf) tahun ………………….(dengan huruf), yang bertanda tangan di bawah ini:

Kemudian baru para pihak, unsur-unsurnya:
a. nama (lengkap dan sah sesuai KTP)
b. umur
c. pekerjaan (kapasitas para pihak)
d. alamat (sesuai KTP)
e. penegasan untuk siapa para pihak bertindak untuk diri sendiri atau badan hukum yang diwakili atau atas nama orang lain.
f. Bertindak sebagai apa: Yang Menyewa/Pihak I atau Yang Menyewakan/Pihak II.

Ad. 3 Kesepakatan
“Kesepakatan” salah satu syarat sahnya perjanjian, biasanya diformulasikan dengan:

“Pihak I sepakat dan setuju menjual kepada Pihak II dan Pihak II sepakat dan setuju membeli dari Pihak I”.

Ad. 4 Objek
Objek perjanjian biasanya diformulasikan setelah kesepakatan, namun ada juga yang diformulasikan pada bagian sendiri (pasal tersendiri). Namun mengingat asas obligatoir sebaiknya dijadikan satu dengan kesepakatan.

Contoh pada perjanjian sewa beli kendaraan bermotor.
“Pihak I dan Pihak II sepakat dan setuju untuk mengikatkan diri dalam hubungan hukum sewa beli sebuah kendaraan bermotor
Jenis : ………………………….
Merk : ………………………….
Tipe : ………………………….
Tahun : ………………………….
Kondisi : ………………………….
Jumlah : ………………………….
Warna : ………………………….
No. Rangka : …………………………
No. Mesin : ………………………….
No. BPKB : ………………………….
No. Polisi : ………………………….
BPKB a/n : ………………………….
Penjual : ………………………….

Ad 5 Hak dan Kewajiban
Tergantung pada perjanjian yang dibuat oleh para pihak.

– Harga
a. nominal harga
b. apabila harga dibayar dengan diangsur perlu ditegaskan pembayarannya (uang muka, berapa kali angsuran, besarnya angsuran).

– Tata cara pembayaran
a. alat bayar (tunai, cek atau lainnya)
b. tempat pembayaran dilakukan
c. kapan pembayaran dilakukan
d. kepada siapa pembayaran dilakukan
e. siapa yang melakukan pembayaran
f. sanksi keterlambatan pembayaran
g. bukti pembayaran

– Tata cara penyerahan barang
a. siapa yang menyerahkan barang
b. siapa yang menerima barang
c. kapan dilakukan penyerahan
d. di mana penyerahan dilakukan
e. siapa yang menanggung biaya penyerahan

– Sanksi-sanksi
Cara-cara penyelesaian apabila pelaksanaan perjanjian terjadi wanprestasi maka perlu ada sanksi-sanksi yang ditetapkan.

Ad. 6 Pola-pola Penyelesaian sengketa
Penyelesaian sengketa dalam pelaksanaan perjanjian diselesaikan dengan kekeluargaan, arbitrasi, pengadilan atau lainnya.

Ad.7 Domisili
Memilih tempat kedudukan hukum berdasarkan kemudahan bagi yang berperkara apabila terjadi pelanggaran perjanjian.

Ad. 8 Biaya Hukum
Biaya hukum harus ditegaskan saiapa yang menanggung biaya meterai dan biaya-biaya lain sehubungan dengan pembuatan kontrak.

Ad. 9 Tempat ditandatangani kontrak
Memuat kapan dan dimana perjanjian ditandatangani sebutkan para pihak (untuk persetujuan) dan saksi (kalau ada).

ASPEK HUKUM KREDIT BERMASALAH


ASPEK HUKUM KREDIT BERMASALAH

Pemberian kredit yang dilakukan lembaga keuangan baik bank, -bank umum, bank syari’ah, bank perkreditan rakyak, maupun lembaga keuangan non bank, -koperasi, meskipun dilakukan secara hati-hati dan teliti adakalanya masih saja ditemukan hambatan dalam penyelesaian kreditnya atau dengan kata lain terjadi kredit macet.

Penyelesaian kredit bermasalah bisa “KLIK” di bawah ini.
ASPEK HUKUM KREDIT BERMASALAH