PEMBERIAN KUASA


PEMBERIAN KUASA

Pengertian Pemberian Kuasa
Pemberian kuasa menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau Buergerlijk Wetboek (BW) pasal 1792 menyatakan bahwa suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melaksanakan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa.

Bentuk Pemberian Kuasa
Kuasa dapat diberikan dan diterima dengan:
1. akta umum;
2. surat di bawah tangan;
3. sepucuk surat;
4. lisan.

Bentuk Penerimaan Kuasa
Penerimaan suatu kuasa dapat terjadi dengan
1. terang-terangan;
Dinyatakan secara jelas mengenai persetujuan untuk menerima kuasa dengan menandataganinya surat kuasa atau pernyataan penerimaan kuasa secara lisan.

2. diam-diam;
Dengan dilaksanakannya kuasa yang diberikan pemberi kuasa oleh penerima kuasa maka dapat disimpulkan penerima kuasa menerima kuasa yang diberikan.

Jenis Kuasa
1. kuasa khusus,
yaitu hanya mengenai satu kepentingan tertentu atau lebih, dalam kuasa khusus memuat kata-kata yang tegas. Misalnya kuasa untuk menjual rumah, membuat perdamaian, kuasa membebani hak tanggungan.

2. Kuasa umum,
yaitu meliputi segala kepentingan pemberi kuasa. Pemberian kuasa yang dirumuskan secara umum hanya meliputi tindakan-tindakan yang menyangkut pengurusan Misalnya kuasa untuk mengurus perusahaan.

Larangan bagi Penerima Kuasa
Penerima kuasa tidak boleh melakukan perbuatan yang mengatasnamakan pemberi kuasa di luar kuasa yang diberikan. kekuasaan yang diberikan untuk menyelesaikan suatu perkara secara damai, tidak mengandung hak untuk menggantungkan penyelesaian perkara pada keputusan wasit.

Kewajiban Penerima Kuasa
1. melaksanakan kuasanya;
2. bertanggung jawab atas segala biaya, kerugian dan bunga yang timbul karena tidak dilaksanakannya kuasa itu.
3. menyelesaikan urusan yang telah mulai dikerjakannya pada waktu pemberi kuasa meninggal dan dapat menimbulkan kerugian jika tidak segera diselesaikannya.
4. memberi laporan kepada kuasa tentang apa yang telah dilakukan
5. Penerima kuasa tidak hanya bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan sengaja melainkan juga atas kelalaian-kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya. Akan tetapi tanggung jawab atas kelalaian-kelalaian orang yang dengan cuma-cuma menerima kuasa, tidaklah seberat tanggung jawab yang diminta dari orang yang menerima kuasa dengan mendapatkan upah.
6. Penerima kuasa bertanggung jawab atas orang lain yang ditunjuknya sebagai penggantinya dalam melaksanakan kuasanya:
– bila tidak diberikan kuasa untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya
– bila kuasa itu diberikan tanpa menyebutkan orang tertentu sedangkan orang yang dipilihnya ternyata orang yang tidak cakap atau tidak mampu.

Hak Penerima Kuasa
1. Hak Subtitusi
Hak untuk melimpahkan kuasanya kepada orang lain atau disebut juga dengan kuasa pengganti. Dapat dilakukan dengan melimpahkan secara keseluruhan atau sebagian saja. Subtitusi dapat dilakukan dengan menunjuk langsung orang yang dimaksud dalam surat kuasa dan dapat pula tidak ditunjuk secara langsung. Terhadap subtitusi yang tidak ditunjuk secara langsung dalam kuasa maka pemberi kuasa bertanggung jawab atas penunjukkan penggantinya.

2. Hak Retensi
Hak untuk menahan suatu barang milik orang lain yang berada di dalam kekuasaannya sampai tuntutan mengenai barang itu dipenuhi.

Kewajiban-kewajiban Pemberi Kuasa
1. Memenuhi perikatan-perikatan yang telah disetujui.
2. Membayar upah kepada penerima kuasa apabila diperjanjikan.
3. Mengembalikan persekot dan biaya yang telah dikeluarkan oleh penerima kuasa untuk melaksanakan kuasanya
4. Memberikan ganti rugi kepada penerima kuasa atas kerugian-kerugian yang dideritanya sewaktu menjalankan kuasanya asal dalam hal itu penerima kuasa tidak bertindak kurang hati-hati.

Hak Pemberi Kuasa
1. Mendapatkan hasil yang diharapkan.
2. Menarik kembali kuasanya.

Berakhirnya Pemberian Kuasa
1. Penarikan kembali kuasa oleh pemberi kuasa.
2. Dikembalikan kuasanya oleh penerima kuasa.
3. Pemberitahuan penghentian kuasanya oleh penerima kuasa.
4. Meninggalnya atau pailitnyasalah satu pihak.

Kuasa di Pengadilan
Dasar hukumnya adalah pasal 123 HIR.
Kuasa di pengadilan harus dengan kuasa khusus yang dibuat secara tertulis atau lisan.
Tertulis, harus memuat identitas para pihak, mengenai perkara apa.
Lisan, harus dilakukan di muka hakim dalam persidangan.

About these ads

3 responses to this post.

  1. hmm thanks atas postingannya, mengingatkan pada semester-semester kemaren nih, hehehe..
    salam :)

    Balas

  2. he he he… thanks telah mampir.

    Balas

  3. Posted by Harun Octavianus on 25/06/2013 at 22:03

    Makasih udah membantu tugas hukum dagang ku

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 181 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: